Perpag Aksi Tanam Pohon
Menghijaukan kembali kawasan karst Gombong selatan, tengah diritis menjadi tradisi aksi berkelanjutan yang dimulai dari Desa Sikayu Buayan [Foto: Div.Media-Perpag]
Bentang Karst Kendeng Utara di Pati
Perbukitan Karst selalu identik dengan sumber-sumber air yang bukan hanya menjadi andalan kebutuhan domestik harian, melainkan juga kebutuhan utama sektor pertanian, perikanan dan kebutuhan agraris lainnya
KOSTAJASA
Koperasi Taman Wijaya Rasa membangun komitmen Bersama Hutan Rakyat - Kostajasa; berslogan "Tebang Satu Tanam Lima" [Foto: Div.Media-Perpag]
Ibu Bumi Dilarani
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
UKPWR
Warga UKPWR (Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, Roban) tengah melakukan aksi penolakan PLTU Batubara Batang. Aksi dilakukan di perairan Roban (9/1) yang sekaligus merupakan perairan tempat para nelayan setempat mencari ikan [Foto: Uli]
Senin, 25 Juni 2018
Press-Release: "Bebaskan Heri Budiawan"
Sabtu, 23 Juni 2018
Tolak PLTU, Masyarakat Gelar Kupatan
Pembangunan PLTU batu bara Batang juga telah menjarah kesejahteraan nelayan. Pembangunan yang telah merambah area perairan laut Batang perlahan tapi pasti menyingkirkan nelayan. Dari bangunannya yang kelak akan memakan sebagian luas area tangkap nelayan, proses pembangunan yang dilakukan secara serampangan pun sudah membuat begitu banyak kerugian. Puluhan nelayan mengeluhkan jaringnya yang tersangkut material-material sisa yang dibiarkan terbengkalai di lautan atau gunungan-gunungan lumpur yang tinggi di dasar laut. Gunungan lumpur itu datangnya dari kerukan yang dibuang sekenanya di banyak titik.
Alhasil, nelayan harus menyayat jaringnya atau justru meninggalkan jaringnya yang tersangkut terlalu dalam. Alih-alih pulang membawa untung, mereka justru merugi karena harus memperbaiki jaring atau bahkan membeli jaring baru lagi. Kejadian ini tak hanya terjadi sekali-dua kali pada satu-dua nelayan. Bahkan, seorang nelayan pun kapalnya pernah tertabrak kapal tongkang PLTU saat melaut di malam hari. Penerangan yang minim dan area jelajah kapal tongkang yang sama dengan nelayan menyebabkan kejadian ini berpotensi terjadi lagi.
Di kemudian hari, saat pembangunan PLTU batu bara yang rencananya sudah bergulir sejak 2011 silam ini selesai, momok lebih besar akan dihadapi kaum nelayan dukuh Roban dan sekitarnya. Pasalnya, polusi, limbah, buangan air panas, dan air laut beserta ikan-ikannya yang turut tersedot dalam proses produksi listrik juga makin memperkeruh situasi. Area tangkap semakin sempit, ekosistem rusak, kebutuhan solar meningkat karena harus melaut lebih jauh, sedang tangkapan semakin sedikit. Lagu lama dan terus didendangkan. Sebuah konsekuensi logis dari berdirinya PLTU batu bara yang terus menerus dipilih para pemangku kekuasaan.
“Industri batu bara itu dimana-mana, dari proses penambangan, pengangkutan, hingga pemanfaatan, juga limbahnya itu, adalah salah satu industri yang paling kotor di dunia. Sangat disayangkan. Yang sekarang seharusnya dilakukan pemerintah adalah menyelamatkan profesi petani dan nelayan, karena itu adalah profesi yang sangat langka. Jadi ya seharusnya kebijakan berada pada masyarakat nelayan di sini”, ujar Robi, vokalis band Navicula yang turut memeriahkan acara Kupatan Berjamaah ini.
Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis sekaligus lakon di balik film-film dokumenter Watchdoc yang datang untuk mendokumentasikan acara tersebut, juga menyebut apa yang terjadi di Batang pada kasus PLTU batu bara ini dapat disebut sebagai sebuah upaya pemiskinan yang nyata. Petani dirampas sawahnya, nelayan direnggut lautnya.
Menyikapi situasi tersebut, bertepatan dengan datangnya hari raya Idulfitri, masyarakat Batang menggelar halal bi halal yang bertujuan untuk konsolidasi antar masyarakat dan aktivis pendamping agar selalu lurus jalannya dalam perjuangan. Dengan semangat meraih kemenangan pula, acara bertajuk Kupatan ini juga diselenggarakan di beberapa titik di Jawa Tengah seperti Rembang, Pati, Gombong (Kebumen), Surokonto (Kendal), dan Tambakrejo (Semarang), serta puncaknya akan diselenggarakan juga di Kota Semarang tepat seminggu setelah jatuhnya hari raya (21/6).
Didasari semangat bersolidaritas, gelaran acara Kupatan yang mulanya hanya diadakan di sekitaran pegunungan Kendeng ini berubah menjadi agenda kolektif; Kupatan Berjamaah, dengan membawa satu pesan besar yang jelas dan tegas, bahwa ada yang tak beres dengan pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Tengah. Dari tahun ke tahun, tak ada masalah lingkungan yang terurai dan menemui titik cerah. Yang ada malah bertambahnya titik-titik konflik. Sementara, di tengah situasi pilgub Jawa Tengah, antara kedua calon nampak belum ada komitmen yang serius bagi lingkungan hidup.
Kegiatan ini adalah suatu bentuk upaya konsolidasi di titik-titik konflik tersebut dengan harapan bahwa persoalan lingkungan hidup menjadi perhatian bersama masyarakat di Jawa Tengah. Bahwa kondisi lingkungan hidup di Jawa Tengah sedang tidak baik-baik saja dan perlu formulasi khusus untuk menyikapinya. (uli)
Selasa, 05 Juni 2018
Press-Release | "nDedher Wiji Kendeng"
luruh makhluk hidup.
081391285242 Gunretno
081348479183 Ngatiban
Kamis, 24 Mei 2018
Siaran Pers |Sidang Perdana Aktivis Penolak Pencemaran PT RUM
Hidup Rakyat!
Hidup Persatuan Rakyat!
1. Bebaskan aktivis pejuang penolak PT RUM
2. Usut pidana pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh PT RUM
3. Usut kekerasan aparat terhadap massa aksi penolak PT RUM
Hidup Rakyat!
Hidup Persatuan Rakyat!
Blows 0812 5998 2371 (Sukoharjo Melawan Racun/SAMAR)
Rizky Putra Edry 0823 8680 7165 (LBH Semarang)
Minggu, 06 Mei 2018
Lamporan Kendeng, Mengusir "Hama" Perusak Lingkungan
Lamporan Kendeng, Mengusir "Hama" Perusak Lingkungan
Bambang (+6285290140807)
Gunritno (+6281391285242)
Rabu, 02 Mei 2018
Walhi: 20 Tahun Reformasi Kekerasan Aparat Masih Terjadi
Rezki Alvionitasari |
Editor:Juli Hantoro |
Rabu, 2 Mei 2018 18:17 WIBSelasa, 03 April 2018
Mengenang Bu Patmi: Pemerintah Dituntut Jalankan Kajian Lingkungan
“Ibu Bumi Wis Maringi, Ibu Bumi Dilarani, Ibu Bumi Kang Ngadili,” sepanjang jalan sembari melangkah, lantunan doa nusantara dinyanyikan para petani. Tengah malam, petani tiba di Monumen Ibu Patmi. Mereka berdzikir sampai menjelang fajar.
“Rumah saya dan warga di Desa Larangan hilang jika pabrik semen berdiri dan beroperasi, karena masuk di kawasan izin usaha pertambangan. Sampai kapanpun takkan kami jual,” katanya.
“Presiden memerintahkan dibuat KLHS, ketika sudah dibuat hasilnya harus melindungi Pegunungan Kendeng, wajib dijalankan. Kok, malah ditambang, kami menunggu kebaikan hati Pak Jokowi,” kata Giyem.
“Pemerintah belum menghentikan pertambangan PT Semen Indonesia di Rembang, KLHS menyimpulkan penghentian dan dilarang penambangan,” katanya.
“Syarat menghentikan pabrik semen di Rembang sudah cukup, tak ada alasan lagi Pak Jokowi memberi lampu hijau pabrik semen Rembang beroperasi dengan dalih negara rugi Rp5 triliun,” katanya.
“Alangkah baiknya Pak Jokowi melaksanakan hasil rekomendasi KLHS tahap pertama, tentu sejalan dengan Nawacita mewujudkan kedaulatan pangan,” katanya.
“Penarikan batas deliniasi tak mengikuti kaidah hukum geologi. Lokasi tapak pabrik semen SMS merupakan lahan pertanian produktif dan padat penduduk. Pemerintah dan aparat belum bisa menciptakan penegakan hukum dan keadilan di negeri ini,” kata Gunretno.
“Resik-resik sumber di Widuri ini wujud tindakan menghargai air yang dihasilkan oleh Pegunungan Kendeng agar warga bisa tetap menikmati air sehat dan jernih,” kata Gunretno.
“Termasuk laporan delapan bulan lalu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” kata Isnur.
“Pemerintah harus segera mengumumkan hasil KLHS tahap II agar kerusakan di KBAK Pegunungan Kendeng tidak makin luas,” katanya.
“Tak terasa satu tahun ia dipanggil Gusti. Apa yang sudah Yu Patmi lakukan semua kami akan teruskan. Kami percaya Yu Patmi akan selalu mendukung dan bersama-sama apa yang dilakukan dulur-dulur dalam menolak pabrik semen di Pegunungan Kendeng,” katanya.





























