Perpag Aksi Tanam Pohon

Menghijaukan kembali kawasan karst Gombong selatan, tengah diritis menjadi tradisi aksi berkelanjutan yang dimulai dari Desa Sikayu Buayan [Foto: Div.Media-Perpag]

Bentang Karst Kendeng Utara di Pati

Perbukitan Karst selalu identik dengan sumber-sumber air yang bukan hanya menjadi andalan kebutuhan domestik harian, melainkan juga kebutuhan utama sektor pertanian, perikanan dan kebutuhan agraris lainnya

KOSTAJASA

Koperasi Taman Wijaya Rasa membangun komitmen Bersama Hutan Rakyat - Kostajasa; berslogan "Tebang Satu Tanam Lima" [Foto: Div.Media-Perpag]

Ibu Bumi Dilarani

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

UKPWR

Warga UKPWR (Ujungnegoro, Karanggeneng, Ponowareng, Wonokerso, Roban) tengah melakukan aksi penolakan PLTU Batubara Batang. Aksi dilakukan di perairan Roban (9/1) yang sekaligus merupakan perairan tempat para nelayan setempat mencari ikan [Foto: Uli]

Jumat, 27 April 2012

Mari Mendata Kawasan Karst

26 Apr 2012 | impalakarstpendataanpotensi | by Imron Fauzi

Lokakarya Pendataan Kawasan Karst
Karst sebagai medan dengan kondisi hidrologi yang khas sebagai akibat dari batuan yang mudah larut dan mempunyai porositas sekunder yang berkembang baik. “Menurut Clements, di Indonesia luasan kawasan karst mencapai 145.000 km2, yang tersebar mulai dari ujung barat sampai dengan ujung Timur Indonesia”, kata Dr. Cahyo Rahmadi (Peneliti Puslit Biologi LIPI). Penjelasan tersebut dipaparkan dalam Seminar “Studi Potensi Kawasan Karst” yang diselenggarakan oleh IMPALA Universitas Brawijaya pada tanggal 21-22 April 2012 di Gedung Inkubator Bisnis Universitas Brawijaya, Kota Malang.
Sehingga karst yang banyak dijumpai di Indonesia adalah karst yang berkembang di batuan karbonat (batu gamping). Karst di lapisan permukaan ditandai dengan terbentuknya bukit-bukit dan lembah-lembah yang terjal. Sedangkan lapisan bawah tanah terjadi pelarutan menyebabkan terbentuknya ruangan-ruangan, lorong sungai bawah tanah, yang di kenal dengan gua atau sistem perguaan.
Namun, karst di Indonesia selama ini hanya dipandang sebagai batu gamping yang kemudian diekspoitasi seperti penambangan untuk kebutuhan industri semen. Padahal, karst memiliki potensi non tambang yang mempunyai peran penting bagi peradaban manusia dan ekologi.
Karst telah memberikan manfaat kepada masyarakat yang nilai dan perannya jauh lebih penting dari sekedar ditambang untuk semen. Dr. Pindi Setiawan (Peneliti lukisan prasejarah di dinding gua) pada seminar yang diikuti oleh 107 peserta ini menyampaikan bahwa gua digunakan sebagai tempat tinggal dan berlindung bagi manusia, temuan ini ada di gua-gua di pesisir utara Papua Barat. Lukisan di dinding-dinding gua Leang-leang, Maros, membuktikan bahwa peradaban manusia di Indonesia sudah ada sejak lama.
Sekitar 20 persen penduduk di dunia memperoleh air bersih dari kawasan karst, seperti di Slovenia, Inggris, Mexico, Yunani, Indonesia, dan masih banyak lagi. “Pengamatan kami di Dusun Sumberceleng, Desa Banjarejo, Donomulyo, Kabupaten Malang, masyarakat mengandalkan air dari kawasan karst untuk kebutuhan sehari-hari dan dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian”, kata Kusmayasari Sitompul, Koordinator Peneliti sekaligus mahasiswa semester 6 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Dr. Pindi Setiawan mengemukakan “Masyarakat di pedalaman Kabupaten Berau dan Kutai Timur, Kalimantan Timur sangat tergantung dengan keberadaan sungai. Karena mereka bermukim di pinggiran sungai dan sungai-sungai tersebut dijadikan sebagai jalur transportasi utama. Sementara, 5 sungai utama di Kalimantan Timur berhulu di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat”.
Manfaat lain dari kawasan karst adalah dari sektor ekoturisme, yaitu wisata yang dilaksanakan di hutan atau di mana saja dengan memanfaatkan lingkungan alam sebagai objeknya. Panorama ekosistem karst bisa dimanfaatkan untuk wisata khusus dan pendidikan bagi masyarakat. Sebelum ekoturisme karst dibuka, tentu harus dikaji dari berbagai aspek terlebih dahulu. Keselamatan pengunjung, keberlangsungan flora dan fauna, kondisi bentang alam permukaan maupun bawah permukaan yang tetap terjaga, merupakan beberapa aspek yang sangat dipertimbangkan sebelum suatu kawasan karst dibuka untuk wisata.
“Salah satu cara menyelamatkan daerah karst agar tetap terjaga adalah melibatsertakan masyarakat, pendekatan yang paling pas adalah melalui ekoturisme”, ungkap Ir. Cahyo Alkantana, MSc dalam paparannya pada seminar yang juga untuk memperingati Hari Bumi ini. Cahyo Alkantana menekankan dengan ekoturisme, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitarnya, sehingga taraf perekonomian mereka menjadi baik. Dari sisi ekologi, masyarakat akhirnya juga ikut menjaga kelestarian ekosistem karst. Cara ini sudah dibuktikan oleh Cahyo Alkantana, dengan membuka wisata khusus dan pendidikan di Luweng Jomblang, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
Fauna yang hidup di daerah karst juga mempunyai peran dan manfaat bagi manusia. Kelelawar merupakan salah satu biota yang memanfaatkan gua sebagai tempat tinggal. “Kelelawar pemakan serangga mempunyai peran mengendalikan serangga sehingga tidak menjadi hama bagi pertanian. Sedangkan pemakan buah menjadi penyerbuk berbagai jenis buah-buahan yang bernilai ekonomis. Kelelawar merupakan salah satu “spesies kunci” bagi keseimbangan ekosistem di sekitarnya”, ujar Sigit Wiantoro, SSi, MSc dalam pemaparan makalah Biospeleologi pada seminar ini.
Dengan berbagai manfaat dan potensi tersebut di atas, kawasan karst merupakan laboratorium alam. Sumber informasi yang terekam dan tersimpan selama proses pembentukan karst menjadi bahan penelitian berbagai disiplin ilmu untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Semua potensi kawasan karst tersebut, tidak akan berarti sama sekali bagi mereka yang memandang karst sebagai secuil batugamping, yang bisa ditambang dan dapat menghasilkan uang, namun hanya dalam jangka waktu pendek sampai karst habis ditambang.
Dari 145 ribu KM2 luas kawasan karst di Indonesia, masih sedikit yang diketahui potensi non tambangnya. Sebagian besar kawasan karst belum banyak diungkap, diteliti dan dikaji potensi non tambangnya. Khususnya potensi kawasan karst di Kabupaten Malang. Untuk itulah perlu dilakukan pendataan potensi karst, untuk konservasi ekosistem karst dan kesejahteraan masyarakatnya. Januario Bramasto, Ketua Umum IMPALA Universitas Brawijaya mengatakan “Setelah seminar ini dilakukan, IMPALA akan melakukan pendataan kawasan karst di Donomulyo Kabupaten Malang. Harapannya, hasil penelitian ini bisa dijadikan pertimbangan bagi pemerintah Kabupaten Malang dalam mengeluarkan kebijakan pengelolaan kawasan karst yang lestari dan berkelanjutan”.

http://caves.or.id/arsip/686

Minggu, 25 Maret 2012

Negeri Seribu Menara Karst, Sangkulirang-Mangkalihat


25/03/2012

Peta kars Sangkulirang-Mangkalihat yang mendominasi hidung Kalimantan Timur. Warna hijau merupakan gunung-gunung kars tinggi, dengan beberapa puncaknya diberi tanda segitiga kuning.

Gambar cadas (rock-art, l’art parietal) di Indonesia nyaris seluruhnya berada di kawasan kars. Salah satu kawasan kars yang banyak ‘mengawetkan’ gambar-cadas adalah kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Pada kawasan ini terdapat sembilan ‘gundukan’ kars raksasa yang tersebar dari barat sampai ke timur, dengan luasan sekitar 100 km x 80 km. Bagian paling barat merupakan bagian kars yang paling terangkat ke permukaan bumi. Ada dua puncak tertinggi yang elevasinya mencapai lebih dari 1000 m dpl, dengan jejeran dinding-dinding megah yang menjulang ratusan meter. Perbukitan kars berserakan ke arah timur. Di timur sering kali dijumpai dataran kars yang luas yang memunculkan sumur-sumur kars.

Kars Sangkulirang-Mangkalihat bahkan menyebar sampai ke pesisir-pesisir, lalu muncul sebagai pulaupulau kars kecil nan cantik di Laut Sulawesi, seperti di Kepulauan Derawan, Birahbirahan atau Miang Besar. Sumber air kars bermunculan di pulau-pulau kecil tersebut, dan banyak sungai kars yang bermuara di dasar laut pesisir Sangkulirang-Mangkalihat. Pada daerah kars seperti itu, tak heran bila kehidupan lautnya merupakan koloni terumbu karang yang dirindukan para penyelam dunia. Dalam pengalaman saya, kawasan kars Indonesia yang sespektakuler Sangkulirang-Mangkalihat itu, hanyalah daerah leher Kelapa Burung dan Rajaampat di Papua.

Situs-situs gambar-cadas pada kawasan Sangkulirang- Mangkalihat baru diketahui keberadaannya setelah disurvei selama 10 tahunan. Survei dilakukan bersama-sama Luc Henry, Chazine, Puslit Arkenas, Puslit Kebudayaan, Balai Arkeologi Banjar, dan Badan Lingkungan Hidup, Kutai-Timur. Situs-situs tersebut sebelumnya ‘tidak diketahui’ lokasinya.

Gunung Gergaji difoto dari udara.

Perlu perjuangan keras untuk mencari terlebih dahulu lokasi dan jalur masuk ke situs-situs tersebut. Jalur masuk ke situs yang berada pada kawasan kars yang gundukannya menjulang 700-1000 meteran tentu bukanlah perkara yang mudah dan sederhana.

Untungnya gundukan kars raksasa ini sangat diakrabi oleh orang lokal. Mereka menyebutnya dengan sebutan batu, sedangkan gunung tanah yang disebut beriun memang langka di kawasan ini. Beberapa penamaannya juga mengikuti bentuk dari gundukan batunya: Batu Gergaji dengan puncakpuncaknya yang mirip mata gergaji dari jauh, Batu Kulat yang gunungnya mirip bentuk jamur kulat, Batu Tutunambo dengan batu yang puncaknya selalu hitam tertutup awan.

Kawasan Mangkalihat yang mempunyai sebaran gambar-cadas paling banyak, memiliki morfologi dengan deretan julangan tebing kars big wall dan tersebarnya gua-gua raksasa. Kawasan ini seolah-olah merupakan gabungan antara Pegunungan Maros- Pangkep (Sulawesi Selatan), Pegunungan Carstenz (Papua) dan Pegunungan Sewu (Yogyakarta). Inilah destinasi wisata masa depan yang akan dapat menghidupi masyarakat Kutai Timur.

Air, Sang Penatah Agung  

Gunung-gunung kars Sangkulirang-Mangkalihat jelas telah jutaan tahun menjadi ‘tangki air’ utama bagi kawasan pesisir timur Sangkulirang-Mangkalihat yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Kelimpahan air itu mengalirkan sungaisungai utama yang meliuk-liuk menghindari dan menembus bebatuan kars lalu membentuk sungai bawah tanah, air terjun, riam, atau ngarai berbatu putih. Sungai-sungai kemudian saling bertemu dan membesar, berkelok membelah kehijauan hutan dan rawa menuju pesisir timurnya.

Sungai-sungai kars dipenuhi dengan berbagai jenis ikan, udang, kurakura, dan buaya sungai. Pantai di pesisir timurnya ditopang larutan subur mineral dari gunung kars, menjadi surga bagi buaya-buaya muara raksasa dan tempat bermain berbagai ikan-ikan besar seperti ikan paus, hiu, tuna atau pari.

Terdapat tiga fenomena pengikisan air di kawasan ini. Pertama, kikisan yang terbentuk karena sungai berusaha menembus gua menuju dataran yang lebih rendah, sampai menembus gunung kars dari satu sisi ke sisi lainnya sejauh 3 sampai 5 km. Beberapa lorong gua bahkan mempunyai ukuran raksasa, baik luas maupun tingginya. Gua seperti ini tersebar pada beberapa gunung kars, dan dapat ditemukan berupa lorong-lorong fosil pada ketinggian 400 m dpl, maupun yang masih aktif di kaki kars. Pada loronglorongnya terdapat beberapa muara-muara gua yang lebih kecil dan lubang-lubang amblesan kars sinkhole.

Gua-gua yang berukuran raksasa mempunyai lorong yang bertingkat-tingkat berupa ceruk horizontal bersusun-susun, tertatah pada sepanjang tepian alur sungai yang mengikisnya. Pada gua raksasa seperti itu, mudah ditemukan jurang-jurang dalam, atau sinkhole yang sangat besar.
Sinkhole besar ini terkadang di dasarnya berkembang hutan kecil. Orang lokal menyebut gua-gua seperti itu dengan nama lubang-tembus, dan tentunya gua tembus ini sangat menantang untuk dijelajahi. Guagua tembus ini tampaknya menjadi hunian utama koloni-koloni walet yang menghasilkan sarang liur emas. Pada satu sistem gua tembus, ditemukan kecoa raksasa dengan ukuran badannya mencapai 10-11 cm dan khas hanya ditemukan pada sistem ini.

Fenomena kedua adalah alur sungai yang mengikis salah satu sisi dari kaki gunung-gunung kars. Jenis kikisan ini menghasilkan gua-gua yang sejajar dengan alur sungai yang mengikisnya, sekaligus mengikuti lekukan-lekukan kaki gunung kars. Lorong-lorong gua sejajar ini ada yang sudah menjadi fosil, ada yang terkadang tergenang air banjir, dan ada pula yang masih aktif dikikis aliran sungai. Orang lokal mempunyai beberapa sebutan untuk gua sejajar ini: lubang tembobos untuk gua yang banyak muaranya, lubang terusan untuk gua yang mempunyai muara di hulu dan di hilir, lubang kembar untuk lorong-lorong gua sejajar yang runtuh di tengah tengah, sehingga seperti ada dua gua kembar yang saling berhadapan pada posisi hulu-hilir. Di gua-gua tembobos lebih sering menjadi tempat bagi jutaan kelelawar yang terdiri dari sedikitnya 90 spesies, dan dua di antaranya spesies langka.

Fenomena ketiga adalah terjebaknya air di lembah kars, membentuk rawa atau danau kars. Jumlahnya sangat banyak. Rawa yang terkenal misalnya rawarawa di wilayah Gergaji-Marang yang dikenal sebagai Danau Tebo. Lembahnya sendiri merupakan fenomena melarutnya kars secara perlahan-lahan. Dasarnya membentuk polje, suatu tegalan kars yang memanjang mengikuti arah lembah.
Tegalan ini dapat berupa rawa, kolam, atau danau, kemudian airnya merembes ke bawah. Rembesannya keluar pada gua-gua di bawahnya.
Masyarakat menyebut fenomena kars ini sebagai lubang-sungai. Gua-gua seperti di sini umumnya pendek dan hanya mempunyai satu muara gua.
Arah lorongnya cenderung tegak lurus terhadap arah gua sejajar di atasnya. Pada skala kecil, gua-gua ini disebut tebot dengan air yang k eluar dari batuan kars disebut air metam berupa air jernih yang biasanya dapat langsung diminum.

Sekarang dijuluki pula air aqua. Penduduk sangat suka mandi di muara air metam yang bertemu dengan aliran sungai utama. Kolam-kolam air kars ini, baik yang di puncak gunung maupun di kaki gunung, mempunyai ikan-ikan yang ukurannya dapat mencapai panjang satu meter.

Walaupun demikian, pada kawasan ini banyak pula ditemukan gua vertikal sedalam 100 sampai 200 m. Tampaknya gua-gua itu merupakan hasil dari gabungan fenomena di atas yang sering mengakibatkan runtuhan-runtuhan baru. Masyarakat lokal mempunyai istilah sendiri, seperti batu tebor yaitu gunung yang mudah longsor batunya, atau ambur batu yaitu daerah yang batunya berhamburan.

Terdapat pula sedikit gejala tektonik berupa mata air panas yang keluar dari gua yang disebut ampenas, artinya air panas. Selain itu, retakan atau kekar-kekar tampak mengontrol arah tebing-tebing raksasa dengan bahasa setempat disebut ilas, misalnya IlasTondoyan, Ilas Bungaan, Ilas Batu Merah. Air hujan yang meluncur turun dari tebing-tebing tinggi ini, mengikis paparan kars di kaki tebing yang menyerupai fenomena kars minor lapiaz berupa lubang-lubang dangkal seperti pada keju. Penduduk menyebut lubang batu yang sisinya tajam sebagai batuan resak. Bila kita tidak hati-hati, betis bisa terluka parah saat bergesekan atau terjatuh di batuan resak ini.

Ya, di sini air telah menunjukkan kuasanya membentuk bentang alam kars dengan mengagumkan. Sungai berkelok-kelok menyisir liukan gunung kars, lalu membelah kehijauan membentuk meander-meander yang indah. Belum lagi jejeran tebingnya berlomba menjulang ke angkasa, dengan ribuan menara kars yang seolah-olah berusaha mencakar langit. Di dalamnya, ribuan gua gulita tersebar sangat menantang.

Pantai Karst Memukau dan Unik

Ekowisata kars Sangkulirang dapat dimulai dari Manubar, sekitar 4 jam naik speedboat dari Aquatik, Tanjung Bara. Ada beberapa losmen sederhana untuk pekerja kayu, namun saya memilih tinggal di rumah penduduk di tepi pantai yang indah dihiasi deretan kelapa khas tropis.

Subuh menjelang pagi, speedboat diarahkan ke timur menuju Kampung Sandaran di ujung kars Mangkalihat. Dari pesisir telihat bayangan hitam gugusan kars bergerigi tajam nun jauh di pedalaman. Di ujung tanjung Mangkalihat, tebing-tebing kars diterjang gelombang membentuk batu-batu ‘berlubang’ seperti gapura, dan sebentarsebentar terlihat pantai pasir kars yang putih menguning disorot mentari pagi.

Pulau Birah-birahan asyik sekali diputari dengan perahu kecil mirip kano. Airnya yang sangat jernih memperlihatan warna-warni kerumunan terumbunya pada kedalaman 2 – 3 m. Pun pantai pasirnya putih menguning disorot matahari pagi. Segar sekali rasanya. Bagian pantai timur pulau menjadi habitat penyu hijau, yang sesuai dengan ekosistem padang lamun dan diteduhi pohon-pohon mangrove yang besar. Pulau Birahbirahan didominasi oleh ratusan pohon kelapa yang sudah tak terurus.

Di bagian tengah kebun terdapat sumuran kars kecil yang mengeluarkan air tawar jernih. Perairan pulau ini mempunyai ubur-ubur air tawar, seperti halnya di Pulau Kakaban di Berau. Ubur-ubur ini tidak menyengat, dan hidup pada danau air-tawar yang terisolasi kurang lebih ribuan tahun dari ekosistem pantai di sekitarnya.

Tak jauh di lepas pantai Birahbirahan terdapat fenomena unik lain: ‘danau’ air tawar di tengah laut. Orang lokal menamakannya bayangan. Fenomena ini sebenarnya adalah muara sungai kars bawah tanah yang debitnya sangat besar sehingga mampu menyibak air laut. Walaupun berat jenis air laut lebih tinggi, namun air laut tersibak ke samping oleh tekanan tinggi air tawar, sehingga terbentuklah danau air tawar di tengah-tengah air asin. Fenomena seperti itu dapat ditemui pula di daerah kars di utaranya, seperti di Labuan Cermin dan Bidukbiduk.

Hulu sungai: pesona nuansa karst

Menikmati kars paling asyik dari perahu ketingting. Perahu yang ramping ini dapat masuk jauh ke hulu tempat gunung-gunung kars berdiri garang. Bongkah-bongkah batugamping sebesar mobil banyak muncul di tengah atau di tepian sungai. Batugamping di tepian sungai ini banyak berangberangnya yang sering hilir mudik menyeberang sungai sambil membawa ranting-ranting. Terkadang tatapan polosnya mengikuti perahu yang melaju pelan menghulu, lucu sekali.

Monyet-monyet makaka bertenger di pucuk-pucuk pohon di bukit kars.

Tebing-tebing yang dekat sungai terlihat tegak memutih atau hitam legam. Di belakang tebing, terdapat ribuan menara kars berjejer berlapis-lapis. Beberapa mulut gua besar menganga hitam, seperti merayu-rayu untuk segera ditelusuri. Monyet makaka sering terlihat duduk-duduk di ranting atau bebatuan pinggir sungai. Monyet jantan yang besar terkadangmarah mengancam menyeringai kepada orang-orang di perahu.

Sesekali terlihat kerumunan makaka jauh di atas pucuk pepohonan atau puncak perbukitan kars, namun tak pernah terlihat mendekati gua.
Menjelang hulu sungai, lembah sudah sempit, dangkal, dan rimbun. Pada beberapa kelokan, sungai mengikis tebing kars dan membentuk ceruk tinggi yang memayungi aliran sungai. Perahu ketingting melaju di bawah ‘payung-batu’ yang putih kekuningan. Ketika melewati ceruk seperti ini, suara mesin menggema bergaung-gaung menerpa dinding batunya. Tempat ini disebut Ilas Kedanum, artinya tebing yang sampai ke sungai.

Gua situs tampak menjulang di tebing kars yang sangat curam.

Ketika perahu ketinting tak bisa lagi berjalan cepat karena motoris memilih jalur dengan hatihati, pandangan tertuju pada bayangan hitam bergelayutan pelan di atas pucuk pohon. Tak salah lagi itu gelayu tan orangutan. Walaupun saya tidak begitu paham, namun sepertinya orangutan pada kawasan ini terlihat lebih gelap dari orangutan lain yang ada di Kalimantan. Kadang terlihat orangutan turun ke tebing kars dekat ranting yang tinggi, lalu menggelayut lagi ke pohon berikutnya.

Orangutan sering tampak diam mematung di atas ranting, seperti yang sedang menikmati adegan orang kota alias manusia menyusuri sungai. Memang belum banyak yang mengetahui bahwa ada habitat orangutan di kawasan kars Sangkulirang.

Kita harus sangat hati-hati apabila melihat rerumputan di tepian sungai bergoyang menjalar cepat tanpa menimbulkan suara berisik. Biasanya itu kobra hitam. Sekelebat tampak badannya yang hitam seakan terbang di atas rerumputan. Kobra juga sangat pandai berenang. Saat berenang, kepala sampai seluruh badannya terlihat seperti ‘terbang’ di atas air. Berbeda dengan ular sanca yang bila berenang hanya kepalanya saja yang terlihat.

Suasana hulu-hulu sungai di kaki menaramenara kars ini benar-benar mengagumkan. Pemandangannya spektakuler, seperti akan menuju kuil-kuil pengendali udara pada film Ang The Last Airbender. Pepohonan yang tumbuh di atas cadas lebih ramping dan lurus-lurus. Pohon yang disebut pohon batu itu sangat keras. Ranting dedaunan yang bergantungan sampai ke sungai, kadang disibakkan untuk bisa dilalui perahu. Namun untuk sampai ke gua-gua bergambar, masih harus terus ke hulu, ke daerah ketika ketingting sudah ‘menyerah’ tidak dapat terus melaju menghulu. Perjalanan ke situs gua-gua bergambar harus diteruskan dengan jalan kaki.

Situs Prasejarah Bertingkat -tingkat

Situs-situs ini dulu begitu jauh dari hiruk-pikuk minyak dan batubara, sampai-sampai Belanda juga tidak menyentuh pedalaman kars ini. Sampai saat ini tidak diketahui apa penyebabnya. Bahkan hingga dewasa ini, situs-situs ini tetap masih jauh dari keramaian kampung-kampung modern, namun sudah didekati oleh tambang-tambang batubara yang dulunya merupakan hutan produksi pada hutan status nasional. Perlu dipertanyakan lebih jauh, mengapa justru di kawasan hutan tersebut, banyak muncul tambang-tambang batubara baru.

Bagaimanapun juga, situs-situs gambar prasejarah tetap harus didekati dengan berjalan kaki. Ada  yang dapat dijangkau dalam hitungan menit dari sungai, namun ada yang memerlukan perjalanan satu malam untuk mendekatinya. Gambar ini dilukis jauh pada masa silam, ketika Kalimantan masih ‘berbagi’ daratan dengan Asia, Jawa, dan Sumatra. Gambar cadas (garca) terawetkan ribuan tahun oleh pekatnya hutan dan jauhnya dari keramaian modernitas.

Garca diduga dibuat oleh kaum Austro-asiatik yang bermata pencaharian berburu dan meramu tingkat lanjut. Mereka datang sekitar 12.000 – 9.000 tahun lalu. Secara teoritis, mereka berjalan kaki dari arah Vietnam menuju Serawak, Sabah, dan akhirnya sampai ke daerah Sangkulirang. Ketika itu, air laut sedang naik menggenangi banyak pesisir dan daratan Asia-Tenggara, dan boleh jadi itu adalah alasan perpindahan orang-orang tadi. Para penggambar garca prasejarah tadi datang lebih dulu dari kaum Austronesian yang merupakan nenek moyang kebanyakan Dayak yang ada sekarang.

Garca di langit-langit gua menunjukkan gua mempunyai posisi penting dalam budaya prasejarah.

Penggambar prasejarah yang disebut orang Kutai Prasejarah itu, tampaknya memusatkan kegiatannya di Gunung Gergaji dan Kulat. Mereka men ggunakan hampir seluruh tingkat pada kedua gunung tersebut, khususnya Gunung Gergaji. Hal itu terlihat dari sebaran situsnya: tingkat pertama situs dekat sungai, tingkat kedua situs di tengah tebing atau di danaudanau kars di puncak gunung, serta tingkat ketiga situs di puncak punggungan gunung batu.

Tingkat pertama, berupa situs kubur dan hunian. Ada situs yang bergambar, ada yang tidak. Pada situs dekat sungai, ditemukan banyak kereweng-kereweng gerabah, bermotif garis-garis dan tumpal. Berkeliling situs-situs dekat sungai sangat mengasyikkan, seperti keliling ke ‘rumah-rumah’ prasejarah. Pada satu ceruk dan satu gua, ditemukan tiga kerangka yang berwajah ‘halus’, yaitu ciri wajah orang Mongoloid, mungkin juga Austro-asiatik atau Austronesian, namun jelas bukan Melanesoid.

Tingkat kedua yang berada di tengah atau di lembah kars, tampaknya merupakan tempat suci untuk upacara saman. Situs saman ini paling sulit dijangkau dibandingkan dengan situs yang berada di dekat sungai atau di punggungan gunung. Untuk mencapai situs tengah, orang perlu berjalan mendaki tanjakan terjal. Situs-situs tingkat dua ini benar-benar berada di tengah-tengah tebing, kurang-lebih 90- 120 m di atas permukaan sungai.
Umumnya untuk mencapai situs tingkat kedua diperlukan pendakian antara satu hingga dua jam. Tidak heran bila napas tersengal-sengal, jantung seperti dipalu-palu detaknya sendiri, dan badan dibanjiri keringat.

Istirahat pun tidak nyaman, karena tidak ada pijakan penuh di tanah atau batu. Semua serba sempit dan miring. Pada beberapa tempat, perlu memanjat tangga kars bersudut 80-90o setinggi 3-4 m. Pada jalur terakhir membutuhkan juluran tali karmantel, yang dijuluki tali ‘Bandung’ oleh penduduk lokal.

Situs tingkat ketiga merupakan situs di puncak punggungan gunung malahan mempunyai jalan yang nyaman dan mudah, asalkan dapat menemui lorong tembus rahasia. Bila lorong tembus itu tidak dilalui, maka tidak mungkin orang sampai ke mulut situs di puncak punggungan karena terlalu tinggi dan terjal. Situs tingkat tiga merupakan situs bergambar tertinggi di kawasan ini, dan tampaknya berfungsi sebagai tempat berkumpul dalam melakukan upacara-upacara komunal.

Dari mulut situs pada tingkat dua dan tiga, pemandangannya sangat mengagumkan. Balutan dedaunan hijau merambat jauh di bawah, dan kabut merangkak pelan seperti enggan meninggalkan hutan. Tegakan gunung kars di sebelahnya tampak angkuh mencuatkan menara karsnya. Menara itu tampak berbayang hitam berlapis-lapis. Kepakan sayap rombongan burung rangkong menggebuk udara, mirip suara helikopter datang. Orangutan terlihat dengan malas menggelayut dari satu kanopi ke kanopi lainnya, dan sesekali orangutan betina, turun ke lereng kars dan duduk sebentar dengan anaknya dari cabang pohon yang dekat ke tebing. Lengkingan panjang orangutan sering terdengar bersautan.

Ratusan burung walet berciut-ciut mencari serangga. Menjelang magrib sang raja malam keluar: kelelawar pemakan serangga menggelapkan sebagian langit. Di malam hari geraman beruang dan lenguhan rusa ikut meramaikan hutan.

Garca Kutai Prasejarah: Rusa Adisatwa, Geko dan Dukun

Garca Kutai Prasejarah diperkirakan dibuat 9.000 tahun lalu. Gua-gua bergambar ini sedikit demi sedikit ditemukan antara tahun 1994 sampai 2006. Garca Kutai Prasejarah yang berwarna merah dan ungu tua didominasi oleh imaji cap telapak tangan. Imaji cap tangan dibuat dengan cara semburan cat, baik lewat mulut maupun tulang binatang. Terdapat telapak tangan bayi, anak-anak, perempuan, atau laki-laki yang digambarkan saling berkait-kait dan berkomposisi rumit dan tampak penuh pertimbangan.

Sedikitnya ada 2000 cap tangan ditemukan tersebar pada 37 situs. Ada yang polos, dan ada yang dikuaskan dengan motif gerigis (garis dan titik), atau motif satwa, dan sekaligus dikomposisikan. Cap tangan bergerigis menunjukkan status pemilik telapak, hubungan kekerabatan, status kelompok, status kedewasaan, atau status keterampilan. Cap tangan bermotif satwa tampaknya merupakan personifikasi kesaktian pemiliknya seperti satwa yang diwakilinya.

Selain imaji cap tangan, situs bergambar Kutai Prasejarah juga dipenuhi oleh imaji adi-satwa. Terdapat dua imaji adi-satwa, yaitu rusa bertanduk dan imaji géko (tokek, kadal, buaya). Imaji adisatwa digambarkan berbeda dibandingkan satwa biasa. Misalnya, imaji rusa yang dianggap adi-satwa digambarkan dengan cara khas, sehingga tampak seperti rusa yang sedang terbang melesat, dengan tanduk yang sangat panjang melebihi panjang tubuhnya.

Manusia Zaman Kutai Prasejarah ini seperti begitu memuja keanggunan rusa bertanduk, yang boleh jadi adalah personifikasi dari kegagahan Rusa Sambar yang banyak ditemukan, terutama ketika kawasan ini masih berhutan savana 10.000 tahun lalu. Sedang imaji géko digambarkan di tempat-tempat yang sulit dijangkau, jauh di atas dinding gua, dan tampak digambar dengan kaki yang dibesar-besarkan. Bila merujuk etnografi tradisi asli Asia Tenggara-Pasifik, maka géko adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

Imaji penting lain adalah sosok dukun yang selalu digambar lengkap dengan aksesorisnya: penutup kepala, rumbai di pinggang, dan tongkat yang ujungnya berlubang. Imaji dukun merupakan imaji yang selalu hadir pada seluruh situs bergambar, kecuali yang dekat sungai. Tampaknya dukun-dukun samanik inilah yang melakukan upacara pemujaan rusa adisatwa, mendongengkan perlindungan arwah nenekmoyang yang bersemayam di dalam sosok géko, serta memimpin proses suci penggambaran telapak tangan. Terdapat cap tangan bermotif sosok dukun di telapaknya, mirip dengan maksud perlambangan kekuatan magis dari seorang dukun.

Tidak Acak dan Tidak Asal-Jadi: Suatu Bentang Budaya

Pemilihan gua dan gambar cadas tidak disusun secara acak, tetapi didesain secara cermat.

Gambar-gambar penting dikuaskan pada dinding bagian atas atau di langit-langit situs. Kemudian, gambar yang menceritakan kehidupan sehari-hari, dibuat sedemikian rupa sehingga lebih nikmat bila meniliknya sambil duduk atau jongkok, tidak sambil berdiri. Satu hal yang menarik adalah terdapat panel bergambar yang harus dilihat sambil tiduran. Galeri ini saya sebut galeri kolong, satu tipe yang juga ditemukan pada situs Aborigin di Laura, Australia.

Cara orang-orang Kutai Prasejarah merancang situs-situs seperti di atas menunjukkan bahwa mereka tidak acak dan sembarang dalam mengembangkan kebudayaannya. Garca ini dikuaskan oleh manusia yang berketerampilan tinggi dan mempunyai pemahaman estetika yang luar biasa.

Ini adalah masterpiece budaya prasejarah dunia, dan merupakan gambar tertua di Asia Tenggara. Mereka telah membuat suatu bentang budaya culturallandscape tertua di kawasan Asia Tenggara. Kawasan ini telah menjadi semacam ‘kerajaan’ bagi para pemburu-peramu prasejarah, dan bisa jadi mereka adalah kelompok pemburu yang besar.

Tidak salah bila kawasan kars Sangkulirang- Mangkalihat bila suatu saat nanti dinominasikan sebagai warisan dunia untuk budaya dan alam, atau suatu geopark yang menawan. Dengan segala pesonanya, rasanya rela memberikan energi yang besar untuk melindungi warisan yang tak ternilai ini, demi kesejahteraan bersama. Semoga, amiin.

Penulis adalah peneliti gambar cadas, Pusat Penelitian Produk Budaya dan Lingkungan, dosen di FSRD, Institut Teknologi Bandung.

Teks dan Foto oleh: Pindi Setiawan

Source: GeoMagz 

Kamis, 22 Maret 2012

Rakyatlah yang Memberi Makan dan Kemewahan Para Pejabat Pemerintah




Mungkin para pejabat pemerintah berpikir bahwa merekalah selama ini yang membantu rakyat. Keliru.

Justru kenyataannya rakyatlah yang memberi makan dan kemewahan kepada mereka lewat bermacam pajak yang mereka bayar dan kekayaan alam yang dinikmati sendiri oleh para pejabat dan kroninya bersama sejumlah perusahaan asing.

Dari Rp 1311 trilyun pendapatan negara, Rp 1032 trilyun (78%) berasal dari Pajak Rakyat (PPN, PBB, PPH, dsb)

Minggu, 01 Mei 2011

Penambangan Ancam Kawasan Karst Gombong

  • 01 Mei 2011
  • oleh Supriyanto
SELAIN Kawasan Geologi Karangsambung, Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Kebumen.
Perbukitan kapur berupa karst itu sangat istimewa, karena proses terbentuknya terjadi ratusan ribu bahkan jutaan tahun silam.
Secara fisik di permukaan, kawasan karst di Gombong selatan terlihat kering dan gersang. Namun di bawah tanah banyak mengandung sumber air yang terus mengalir tiada henti dan penyimpan cadangan air. Salah satunya telah dimanfaatkan sebagai sumber baku air bersih oleh PDAM.

Kawasan batu gamping, terutama kawasan karst merupakan daerah yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Hal tersebut dikarenakan oleh sifat batu gamping yang mudah bereaksi dengan air sehingga membentuk daerah karst dengan kondisi ekologi yang sangat spesifik. Kawasan ini pun berfungsi sebagai daerah resapan air tanah untuk wilayah sekitarnya.

Betapa penting dan istimewanya kawasan karst tersebut. Karst merupakan potensi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable resources). Begitu pentingnya sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan mengatur kawasan karst antara lain melalui Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi nomor 1456 K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst.

Melalui Kepmen ESDM Nomor 961 K/40/MEM/2003, pada 23 Juli 2003, pemerintah menetapkan Kawasan Karst Gombong Selatan sebagai kawasan lindung. Kawasan karst Gombong terbentang seluas 48,94 km2 meliputi Kecamatan Ayah, Rowokele dan Buayan. Bahkan tahun 2004, Presiden SBY mencanangkan Wilayah Geologi Gunungsewu dan Gombong Selatan sebagai Kawasan Eko Karst.

Kawasan karst berkembang pemanfaatannya. Seperti menjadi daerah wisata dengan objek gua, tempat habitat satwa seperti ular, walet, dan kelelawar, serta kawasan hutan produksi maupun hutan lindung. Berdasarkan survei yang dilakukan tim tata ruang Pemkab Kebumen di Gombong Selatan, ditemukan 173 gua bentukan alam. Keberadaan gua dengan sungai bawah tanah seperti Gua Jatijajar, Gua Petruk, Gua Simbar, Gua Barat sangat menakjubkan dan menarik perhatian bagi pecinta gua (speleolog).

Sumber Daya Geologi

Harta karun yang dikandung dalam Kawasan Karst Gombong Selatan adalah melimpahnya potensi sumber daya geologi. Adanya batuan yang bervariasi serta kontrol struktur menjadikan kawasan itu memiliki potensi berbagai bahan tambang. Antara lain berupa andesit, batu gamping, phospat, bentonit, kaolin trass, mangaan, emas dan serpih bitumen yang  tersebar merata di seluruh kawasan.
Dari studi pemetaan geologi tata lingkungan pada kawasan karst Gombong selatan yang dilakukan oleh Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen tahun 2009, potensi batu andesit terdapat di Desa Mangunweni, Candirenggo, Kalipoh, Srati, Jintung dan Adiwarno di Kecamatan Ayah dengan total cadangan sekitar 106.130.975 m3.

Kualitas batu andesit bagus dan lokasi keterdapatan bukan berada di dalam kawasan karst. Dengan kualitas baik, sehingga dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan bertingkat.
Kemudian potensi batu gamping dengan luas sebaran diperkirakan 5.083,5 hektare terdapat sekitar 389.250.000 metrik ton dengan kualitas sangat baik. Namun sekitar 60 % termasuk kawasan karst kelas I, 30 % termasuk kawasan karst kelas II dan 10 % masuk dalam kawasan karst kelas III.

Batu gamping merupakan jenis bahan galian yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan penetral asam, sebagai kapur tohor dan kapur padam, untuk bahan bangunan, semen portland. Berdasarkan analisa kandungan CaCO3 lebih 90 %, CaO 54,38ñ55,50 %, MgO 0,2746ñ0,49 % sehingga batu gamping pada KKGS berkualitas sangat baik untuk bahan utama pembuatan semen.

Luas sebaran batu gamping diperkirakan 5083,5 hektare terdapat sekitar 389.250.000 metrik ton, pada ketinggian di atas 150 meter yang diperkirakan tidak habis dalam waktu 100 tahun. Melihat potensi itu, tidak heran jika investor PT Semen Gombong di bawah bendera Medco bernafsu mendirikan pabrik semen, meski gagal karena terkena imbas krisis moneter.

Namun dari hasil penelitian yang menggandeng CV Mitra Development Services Semarang itu diketahui, sebaran batu gamping sekitar 60 % masuk kawasan karst kelas I, 30 % termasuk kawasan karst kelas II dan 10 % masuk dalam kawasan karst kelas III.

Padahal pada kawasan karst I tidak boleh dilakukan penambangan karena akan sangat merusak ekosistim.
Kawasan karst kelas II dapat dilakukan penambangan secara terbatas, sedangkan kawasan karst kelas III diperbolehkan penambangan.

Adapun bahan tambang phospat guano yang tersebar pada gua-gua batu gamping, berkualitas cukup baik namun cadangan sulit ditentukan. Bentonit, dihasilkan dari alterasihidrotermal batuan vulkanik dengan cadangan sekitar 100.000 m3. Trass dihasilkan dari ubahan batuan vulkanik yang banyak mengandung felspar dan silika, dengan cadangan sekitar 60.000 m3 dan dapat dimanfaatkan untuk pembuatan semen pozzolan.

Kemudian, cadangan mangaan diperkirakan cukup besar, kualitas bervariasi, umumnya kurang baik namun beberapa tempat menujukkan kadar tinggi. Sementara cadangan emas belum bisa ditentukan, demikian pula kandungannya, namun masih ekonomis untuk penambangan rakyat. Misalnya, bekas penambangannya ditemukan pada aliran Sungai Jladri, Buayan serta Kali Majingklak Desa Argopeni,Ayah.

Penambangan Ilegal

Di satu sisi kawasan karst memiliki aneka ragam potensi sumber daya alam, namun di sisi lain kawasan karst harus dilindungi untuk kelestarian ekosistim. Idealnya, perlu keseimbangan antara pengelolaan dan kelestarian lingkungan sehingga kegiatan penambangan dapat berkelanjutan serta tidak merusak kawasan karst.

Namun realitasnya, meningkatnya permintaan pasar terhadap bahan tambang, serta persoalan perekonomian, mengakibatkan peningkatan aktivitas penambangan secara ilegal. Data di Bidang ESDM pada Dinas SDA ESDM Kebumen diketahui terdapat 130 usaha tambang batu kapur di tiga kecamatan yang masuk kawasan karst Gombong. (24)

Kamis, 30 September 2010

Peran Penting Kawasan Karst

Written by Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Gambar: Sebagian kawasan karst Gunungsewu yang terkonservasi

 Bentang lahan karst memiliki peran yang sangat penting bagi lingkungan. Bentang lahan karst menyediakan jasa ekosistem seperti air bersih, bahan-bahan material, dan menjadi agen pengendali perubahan iklim (Brinkmann dan Jo Garren, 2011). 

Disamping sumberdaya air, kawasan karst memiliki berbagai sumber daya yang sangat potensial untuk dikembangkan seperti sumberdaya lahan, sumberdaya hayati, dan potensi bentang lahan baik permukaan ataupun bawah permukaan (Suryatmojo, 2006). Kawasan karst memiliki fungsi ekosistem yang serupa dengan hutan rimba yaitu sebagai pengatur tata air khususnya air bawah tanah dan penyimpan potensi karbon. Kerusakan lingkungan pada bentang lahan karst seperti akibat penambangan akan mengakibatkan matinya sumber air bawah tanah yang berlimpah.

Kondisi permukaan wilayah bertopografi karst pada umumnya kering dan kritis. Namun demikian, dibagian bawah permukaan terdapat potensi sumber air yang sangat berlimpah. Sumber air Baron di karst Gunungsewu – Yogyakarta adalah contoh melimpahnya air sungai bawah tanah daerah karst. Potensi yang terkandung pada sumber air tersebut mencapai 8000 liter/detik (Adji, 2006), sementara hingga saat ini yang termanfaatkan baru mencapai 15 liter/detik (Sunarto, 2002).                 
Sifat batuan karbonat ataupun dolomit yang menjadi penyusun utama bentang lahan karst adalah memiliki banyak rekahan, celah, dan rongga pada bagian permukaan. Bagian tersebut dinamakan dengan zona epikarst. Zona ini menjadi zona penangkap air yang jatuh ditempat tersebut. Celah, rekah, dan rongga tersebut akan terhubung dengan lorong-lorong konduit yang berada di zona vadose yang berada dibawah zona epikarst. Air yang ada di permukaan pada zona epikarst akan terresap ke lorong sungai bawah tanah melalui rekahan-rekahan tersebut menuju lorong-lorong sungai bawah tanah di zona vadose. Zona vadose merupakan bagian batuan karbonat yang tebal, dan tidak banyak memiliki rekah. Pada zona ini lorong-lorong konduit terbentuk. Lorong konduit ini dapat dilihat dalam bentuk gua ataupun lorong sungai bawah tanah.
Penambangan di wilayah karst ini biasanya mengambil batu gamping hingga mencapai lapisan zona vadose. Penggalian batu gamping seperti pada bukit-bukit karst akan menghilangkan zona epikart yang sangat penting sebagai lapisan penangkap air. Hilangnya zona epikart ini tentu saja akan mematikan imbuhan air ke dalam lorong-lorong konduit atau sungai-sungai bawah tanah. Air tidak dapat terresapkan ke dalam jaringan sungai bawah tanah tersebut. Air akan melimpas di permukaan dan dapat membentuk air larian dengan volume yang besar dan banjir. Akibatnya tentu adalah matinya sungai-sungai bawah tanah, matinya mata air di kawasan karst, serta potensi bencana banjir pada saat hujan.
Penelitian yang dilakukan oleh Risyanto dkk (2001) meyebutkan dampak negatif terhadap lingkungan akibat penambangan dolomit meliputi perubahan relief, ketidakstabilan lereng, kerusakan tanah, terjadinya perubahan tata air permukaan dan bawah permukaan, hilangnya vegetasi penutup, perubahan flora dan fauna, meningkatnya kadar debu dan kebisingan.
Kawasan karst bukan tidak berarti tidak boleh dimanfaatkan. Namun pemanfaatannya haruslah dilakukan dengan benar dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh dampak ekologis yang akan muncul. Pertimbangan keuntungan ekonomi jangka pendek sangatlah tidak berarti jika akan menimbulkan kesengsaraan di masa yang akan datang. Sumberdaya karst dapat disebut sebagai sumberdaya yang tidak terbaharui karena memerlukan waktu hingga jutaan tahun untuk membentuk bentang lahan tersebut. Penetapan kawasan bentang lahan karst sebagai kawasan lindung geologi patut diperhatikan dan diindahkan. Kawasan karst ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 17 tahun 2012.
Kawasan karst ini merupakan kawasan yang unik dan sangat berbeda dengan ekosistem lainya. Perubahan sekecil apapun akan berdampak pada perubahan fungsi ekosistemnya.  Dampak yang langsung dan nyata tentu akan kembali pada manusia terutama yang bertempat tinggal di kawasan tersebut dan sekitarnya. Matinya sumber air bawah tanah akan dengan segera dirasakan bersamaan dengan hilangnya zona epikarst yang ada. Hilangnya biota goa seperti kelelawar yang mampu meredam hama serangga pertanian akan terjadi sejalan dengan perubahan mikroklimat dalam gua.

Adji, T., N., 2006., Kondisi Darah Tangkapan Sungai Bawah Tanah Karst Gunungsewu dan Kemungkinan Dampak Lingkungannya terhadap Sumberdaya Air (Hidrologis) karena Aktivitas Manusia, Seminar UGK-BP DAS SOP, Fakultas Geografi UGM.
Adji, T. N., Sudarmadji, Woro, S., Hendrayana, H., Hariadi, B., 2006. The Distribution of Flood Hydrograph Recession Constant of Bribin River for Gunungsewu Karst Aquifer Characterization. Gunungsewu-Indonesian Cave and Karst Journal, Vol. 2. No. 2.
Brinkman, R., Garren, S., J., 2011. Karst and Sustainability. Karst Management. DOI : 10.1007/978-94-007-1207-2_16.
Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2012 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst.
Risyanto, Jamulya, Woro., S., Halim, Y., Sriyono, 2001. Identifikasi kerusakan Lingkungan Akibat Penambangan Bahan Galian Golongan C di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan dan Kecamatan Penceng Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur, Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian Fakultas Geografi UGM Tahun 2001. Fakultas Geografi UGM.
Soenarto, B., 2002. Penaksiran Debit Daerah Pengaliran Gabungan Sungai Permukaan dan Bawah Permukaan Bribin-Baron Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Disertasi. ITB. Bandung.
Suryatmojo, H., 2006. Strategi Pengelolaan Ekosistem Karst di Kabupaten Gunungkidul. Seminar Nasional Strategi Rehabilitasi Kawasan Konservasi di Daerah Padat Penduduk. Fakultas Kehutanan UGM.


http://geo.fis.unesa.ac.id/web/index.php/en/geomorfologi-karst/133-peran-penting-kawasan-karst

Kamis, 29 April 2010

Karst dan Air di Masa Depan

April 29th, 2010

Pemahaman yang salah mengenai kawasan karst adalah bencana kekeringan.
Oleh: Abdillah Imron Nasution


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kenampakan di permukaan daerah karst yang menunjukkan daerah kering kerontang khususnya di Aceh diyakini merupakan salah satu alasan mengapa kawasan ini dianggap sebelah mata dan tidak layak untuk dilestarikan. Memang, kenyataan ini sesuai dengan arti istilah kast yang berarti lahan gersang dan berbatu. Banyak pihak juga menganggap kawasan ini merupakan kawasan bahan baku tambang saja. Anggapan salah tersebut semakin riskan oleh ketiadaan data yang sifatnya multisektoral dan kemiskinan masyarakat kawasan karst di Aceh. Hal ini semakin tidak layak untuk dibayangkan jika pemanasan global di rata tempat akan menghilangkan keterdapatan air yang merupakan kebutuhan fisik dan juga spiritual (berwudhu’) di Aceh.

Sebagai perbandingan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dalam hal ini Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, sejak tahun 1995 telah melakukan kegiatan pengeboran air tanah dan penurapan mata air dalam rangka penyediaan air bersih untuk masyarakat di pedesaan dan daerah sulit air bersih. Dan kebanyakan lokasi-lokasi tersebut terletak dan merupakan daerah karst, seperti di daerah Jawa Barat selatan, Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Tulungagung, Tuban, sampai ke Pulau Lombok dan Pulau Timor.

FENOMENA KAWASAN KARST

Karst dan air di masa depan

Dalam nilai strategisnya pada keberadaan air, kawasan karst sangatlah unik. Dikatakan unik karena kondisi air tanah pada batuan karst sangat rumit dan khas, tidak bisa disamakan dengan kondisi air tanah pada batuan antar butir atau celahan. Pada suatu kawasan karst, batu gamping karst pada umumnya bertindak sebagai akuifer utama yang dialasi oleh batuan kedap air, sehingga semua hydrolic event seperti imbuhan, keluaran, dan aliran air tanah akan berlangsung pada batu gamping karst tersebut dengan karakter yang khas.

Air di kawasan karst bergerak melalui sistem retakan, celahan, gua, sedangkan di kawasan bukan karst gerakan air tanah mengalir melalui pori antar butir atau celahan dengan jumlah sangat kecil. Air tanah pada kawasan karst akan membentuk aliran melalui saluran, medianya akan bersifat heterogen. 
Aliran air tanah akan bergerak lebih cenderung bersifat turbulen atau berputar. Dengan demikian air yang mengalir melalui lorong lorong gua dapat dianggap sebagai akuifer utama yang berbentuk sungai bawah tanah sedangkan yang mengalir melalui celah atau retakan batuan sebagai cabangnya.

Sebagian kecil air tanah mengalir melalui ruang antar butir atau retakan sempit dikenal sebagai air perkolasi. Air perkolasi merupakan aliran difusi yang mengalir lambat dan bertindak sebagai cadangan untuk mengimbuh pada air tanah yang ada pada akuifer utama terutama pada musim kemarau. Air perkolasi di kawasan karst bergerak dengan kecepatan beragam tergantung dan derajat karstifikasi dan jaringan sistem percelahan yang sudah terjadi. Jaringan ini bisa terbentuk dalam daerah yang cukup luas.

Keunikan lainnya adalah pada saat musim penghujan kawasan ini mendapat imbuhan yang mengalir melalui saluran. 
Tampungan air ini dikenal sebagai akuifer epikarstik. Akuifer epikarstik menampung air hujan yang masuk melalui saluran, sehingga pada saat terjadi hujan lebat terjadi banjir. Jika akuifer ini tidak bisa menampung lagi air, maka akan terjadi arus balik yang menyebabkan terjadinya aliran turbulen. Aliran ini sangat penting di dalam proses pembentukan karst, karena aliran turbulen tersebut akan melarutkan batuan dan memperbesar lubang retakan batuan. Akibatnya kemampuan akuifer epikarstik dalam menampung dan mengalirkan air hujan menjadi semakin lebih besar. Pada musim kemarau, akuifer epikarsttik mengalirkan air tanah secara perkolasi ke dalam saluran utama. Pada musim kemarau panjang secara berangsur akuifer ini menghilang (menjadi kering). Terbentuknya kembali akuifer memerlukan waktu yang lama dan tidak cukup dengan hujan lebat yang jatuh seketika akan tetapi memerlukan waktu berbulan bulan.

Di bagian dalam karst terdapat akuifer yang disusun oleh jaringan celah, retakan, dan gua yang saling berhubungan. 
Akuifer ini membentuk subsistem tersendiri yang memiliki kecepatan aliran lambat atau cepat tergantung porositas sekunder yang ada. Keberadaan subsistem ini penting untuk menentukan sifat dan pola aliran air tanah, selain menjadi faktor penentu sistem hidrolika karst yang heterogen. 

Penyelidikan potensi air tanah pada batuan karst yang paling efektif dilakukan terlebih dahulu dengan mempelajari keberadaan struktur yang ada pada karst tersebut, beberapa caranya adalah analisis poto udara untuk mengetahui struktur yang ada setempat serta citra satelit untuk mengetahui kondisi regional serta dengan mempelajari gua (speleologi) yang dapat sangat membantu dalam mengetahui potensi air tanah. Dengan ilmu ini bisa mengetahui genesa gua, morfologi gua, sedimentasi dalam gua, mineral yang ada sampai ke biota yang hidup di dalam gua.

PEMAHAMAN YANG SALAH ADALAH BENCANA KEKERINGAN

Pemahaman perilaku air tanah pada suatu kawasan karst, terutama mengenai keterdapatan, penyebaran, dan pengaliran air tanah, merupakan dasar pertimbangan bila akan dilakukan perubahan pemanfaatan lahan di daerah karst, sehingga dapat memperkecil dampak negatif yang akan timbul terhadap lingkungan terutama pada kondisi air tanah. Upaya-upaya perlindungan terhadap air tanah pada karst terutama dan kegiatan penambangan batu gamping, perubahan daerah resapan, pengambilan air tanah, dan penurapan mata air.

Penambangan batu gamping sebagai bahan baku semen

Rencana penambangan pada batu gamping karst, para ahli tambang harus mengikuti batasan-batasan pertimbangan hidrogeologis dalam menilai kelayakan tambang di samping aspek teknis dan ekonomisnya, agar kelestarian pemanfaatan air tanah tetap dapat berlanjut. Meskipun kondisi hidrogeologis akan berbeda beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, namun secara umum batasan dan segi hidrogeologis untuk rencana penambangan dikemukakan seharusnya:
  1. Daerah penambangan tidak berhubungan langsung dengan proses utama terdapatnya air tanah yang berkembang di daerah karst, seperti menyebabkan berkurangnya imbuhan air tanah, menyebabkan menjadi kecilnya mata air,
  2. Membatasi penambangan hanya berada pada zona kering diatas zona jenuh air atau di atas zona derajat distribusi aktif porositas karst terhadap air tanah.
  3. Rancang bangun penambangan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak fungsi imbuhan air tanah tidak berkurang,
  4. Tidak melakukan kegiatan penambanagn path tempat tempat yang berpotensi meresapnya air hujan dan air permukaan, seperti lembah-lembah kering, gua-gua, atau rekahan rekahan utama.
Perubahan daerah resapan

Perubahan daerah resapan air tanah di wilayah karst, terutama terjadi karena dilakukannya penambangan batu gamping yang kurang memperhatikan kondisi hidrogeologi setempat, seperti telah diuraikan di atas. Rekayasa manusia lainnya di antaranya menghilangnya hutan, mendirikan bangunan yang kedap air. Kegiatan tersebut tidak hanya berimbas pada batuan kast itu sendiri akan tetapi juga di daerah sekitarnya yang bisa menambah air di daerah karst, seperti sungai yang berhulu di daerah bukan karst.

Pengambilan air tanah

Seperti diuraikan di atas air tanah pada karst penyebarannya tidak merata di semua tempat akan tetapi hanya akan dijumpai pada batu gamping yang sudah mengalami pembentukkan porositas sekunder. Oleh karenanya air tanah lebih banyak dijumpai berbentuk lorong atau bagian tertentu saja di dalam suatu wilayah. Pengambilan air tanah harus ditempatkan pada daerah yang tepat, misal jangan pada daerah imbuhan air tanah, dan memperhatikan potensi yang ada.

Penurapan mata air

Penurapan mata air pada batuan karst memerlukan teknik tersendiri, sering terjadi mata air malah menjadi menghilang. Air tanah yang mengalir melalui celahan dan pelarutan serta akuifer yang terbentuk bersifat tidak tertekan (unconfined aquifer). Terbentuk mata air akibat adanya kontak antara akufer dengan batuan dasar atau yang bisa disebut mata air kontak (contact spring). Jika pada penurapan dilakukan peninggian tempat, maka air tanah akan mengalir ke daerah lain yang mempunyai tekanan hidrostatikanya lebih kecil, sehingga bukannya air akan bertambah, malah air akan menghilang.
___
 

DAFTAR PUSTAKA
  1. Anonymous, Zona Kawasan Karst Kabupaten Wonogiri, Kerjasama antara Bappeda Kab. Wonogiri dan Fak. Geografi UGM, 2002
  2. Hanang Saniodra, Nilai Strategis Kawasan Karst di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Publikasi Khusus Nomor 25, Juni 2001.
  3. Hendri Setiadi, Upaya perlindungan air tanah karst untuk lokasi rencana penambangan batu gamping, Departemen pertambangan dan energi Direktorat jendral Geologi dan Sumber Daya mineral, Direktorat Geologi Tata lingkungan, Bandung 1999.
  4. Hendri Poloc dkk, Flydrogeology of Selected Karstt region, International Association of hydrogeologists, Volume 13, 1992.
  5. Mijatovic, B.F., Hydrogeology of Dinaric Karstt, International Association of hydrogeologists, Volume 4, 1984.
  6. Djaendi, Potensi Air Tanah Dan Geowisata Kawasan Karst, Workshop Nasional Kawasan Karst-Wonogiri. Direktorat Tata Lingkungan Geologi Dan Kawasan Pertambangan Direktorat Jenderal Geologi Dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2004.
http://karstaceh.com/entrance/karst-sumber-air-masa-depan

Jumat, 04 Desember 2009

Komentar atas artikel “Karst bukan bahan baku semen”

December 3rd, 2009  |  Published in Flowstone

Ada satu artikel yang buat saya menarik untuk dikritisi dalam salah satu blog yang ditulis oleh EFFNU SUBIYANTO seorang MAHASISWA MAGISTER MANAGEMEN UGM dan PESERTA ISKF I di Yogyakarta, dan tulisannya juga terbit dalam majalah GAPURA pada tanggal 2 September 2008.

Artikel ini sangat perlu dikritisi agar ada “counter opinion” terhadap beberapa pernyataan dalam artikel tersebut.
Dari tinjauan judul saja yaitu “Karst bukan bahan Baku Semen”  sudah terkesan adanya satu tujuan untuk sebuah pembenaran bagi aktivitas penambangan di kawasan karst. Definisi Karst sendiri menurut salah satu kamus online adalah “An area of irregular limestone in which erosion has produced fissures, sinkholes, underground streams, and caverns.”  Dimana satu kawasan yang menunjukakn ciri-ciri seperti difinisi tersebut layak disebut sebagai karst yaitu adanya proses beberapa sistem perguaan, aliran sungai bawa tanah dan luweng. Nah, di Indonesia mayoritas semua penambangan batu gamping untuk semen di sekitar lokasi penambangan terdapat fenomena yang dapat dikategorikan sebagai karst. Salah satu penambangan di Tuban pun ada di dalam kawasan Karst karena sekitar 500 m dari kawansan penambangan terdapat gua yang dihuni ribuan kelelawar dan ada juga sistem sungai bawah tanah yang penting untuk ketersediaan air. Lantas dimana benarnya Karst bukan bahan baku Semen…, buat saya judul ini adalah sebuah pembelokan atau malah bisa dikatakan penyesatan. Mari kita baca lagi buku-buku tentang arti dan definisi karst dan aspek-aspeknya.

Kalau penambangan dilakukan berdasarkan ketentuan Kepmen ESDM perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam baik dari sisi aspek SURFACE maupun UNDERGROUND. Nah dalam kepmen tersebut saja sudah ditentukan KLASIFIKASI KARST, yang ada Karst Kelas 1, 2 dan 3. Penambangan boleh di Karst Kelas 3 dan Karst Kelas 2 dengan AMDAL dll. Lantas, mengapa perlu dibuat klasifikasi KARST, kan untuk tujuan PENGELOLAAN Penambangan untuk bahan baku semen. Terus … kalau Karst bukan bahan baku semen, terus bahan baku semen ambil dari mana, mungkin tiu pertanyaan yang perlu di jawab oleh penulis.

Jadi dari sisi judul saja sebenarnya ada yang kurang pas namun, apapun itu Judul adalah hak prerogratif penulis sesuai dengan apa tujuan penulis.
Ada hal yang masih perlu ditinjau lagi seperti yang terkutip di bawah ini :
“Disinilah kekurangan para peneliti ISKF karena tidak memberikan rekomendasi alternatif dua arah secara berimbang dari sudut pandang peneliti dan kalangan bisnis sehingga mengurangi bobot penelitian. “
Sebenarnya, sebuah bobot penelitian tidak hanya ditinjau dari apakah sebuah penelitian tidak berbobot karena tidak bisa menyelesaikan atau memberikan kontribusi terhadap permasalahan yang ada. Penelitian adalah sebuah proses dimana setiap peneliti ingin mencapai sesuatu yang buat peneliti penting untuk dijawab, sementara peneliti belum menitik beratkan pada permasalah lain yang muncul.
Terkadang banyak orang menuntut sebuah penelitian harus bisa menyelesaikan pernmasalahan bangsa, baik itu ketahanan pangan, energi terbarukan maupun aspek ekonomi kemasyrakatan bahkan konservasi dan pemanfaatan.

Padahal perkembangan ilmu Karst di Indonesia baru seumur jagung, kalau para penelitinya sudah dituntut unttuk bisa menyelesaikan bagaimana permasalahan antara konservasi dan pemanfaatan, sementara kita belum tahu apa-apa tentang karst dan seluk beluknya. Hal ini dikhawatirkan akan terjadin MISLEADING dalam menjawab pertnyaan karena menimnya data.

Sekiranya peneliti bisa menjawab bagaimana konservasi dan pemnafaatan bisa berjalan selaras, mungkinkah sektor bisnis bisa melakukan seperti yang diamanatkan oleh hasil PENELITIAN.

Sebagai contoh, dari sisi biologi suatu kawasan karst terdapat beberapa gua dengan populasi kelelawar, sebagai data dasar, sebelum dilakukan aktivitas di kawasan tsb dilakukan AMDAL untuk mengetahui seberapa besar populasi kelelawar dan hewan renik lainya di gua A.

Hasil AMDAL otomatis menjadi data dasar sebagai acuan belum adanya dampak, dari sini muncul rekomendasi untuk RKL/RPL, salah satunya melakukan pemantauan populasi kelelawar dan hewan renik lainnya di gua A sepanjang tahun sebanyak dua kali perbedaan musim.

NAh, apakah pelaku bisnis penambangan semen sudah melakukan ini ???? 
APakah pelaku pertambangan di Tuban sudah mempunyai data jenis kelelawar dan besaran populasinya tiap jenis dan bagaimana kecenderungannya sejak AMDAL sampai sekarang ….
kalau hal ini bisa dijawab oleh pelaku bisnis pertambangan gamping, para peneliti bisa membantu untuk bagaimana bisa ECO-FRIENDLy. Tapi kalau belum bisa menjawab pertanyaan itu, lebih baik introspeksi dan mengkoreksi apakah dulu AMDAL-nya benar atau memang hanya sekedar formalitas.
Kalau memang belum ada data, tentang biologi maupun aspek lain yang bisa dijadikan BASE LINE STUDY, lebih baik meninjau kembali rencana untuk membangun di kawasan baru.
Kalau aspek biologi tidak menjadi aspek yang penting, berarti aspek KESEIMBANGAN EKOLOGI telah diabaikan hanya untuk kepentingan ekonomi sesaat.
Kalau ditanya, apa pentingnya BIOLOGI. mari kita bertanya bagaimana kita bisa makan duren, bagaimana kita makan nasi, bagaimana mangrove sepanjang pantai utara jawa bisa bertahan, siapa yang menyebarkan biji hingga ke puncak gunung, siap yang memangsa ngengat dan nyamuk di malam hari,
jangan hanya bertanya berapa uang yang akan kita peroleh dengan peduli aspek biologi. 
Hitung saja, berapa uang harus disiapkan untuk membeli pestisida untuk membasmi 200.000 ekor ngengat, berapa uang diperlukan untuk membayar orang menyerbuki bunga DLONGOP agar kita bisa makan duren …, berapa uang harus disiapkan untuk bayar orang nanam pohon di puncak gunung….,
Mari kita hitung ….,
Ada pernyataan yang buat saya cukup mengganggu, berikut petikannya:
“Semoga saja hasil penelitiannya benar-benar murni science dan tidak memiliki motif tertentu, seperti komitmen PTSG selama ini terhadap lingkungan. “
Saya tidak mengerti dengan pernyataan ” semoga saja hasil penelitiannya benar-benar murni science dan tidak memilik motif tertentu …….,
Para peneliti karst, saya yakin semua murni science dan tidak keracunan oleh “motif ekonomi” atau “penelitian pesanan”, kecuali oknum-oknum yang lebih mengedepankan ketebalan kantong dan menebalkan muka.
Penelitian adalah sebuah proses yang butuh dana tidak sedikit, sebagian dana diperoleh dari pemerintah, dari lembaga donor, universitas dan BAHKAN KANTONG SENDIRI. Seandainya semua itu tidak ditujukan untuk science, lantas buat siapa dan buat apa?
Seandainya penulis artikel tersebut secara terbuka mau berdiskusi lebih jauh, saya yakin banyak hal yang akan kita pahami bersama.
Saya inget, Penulis, Effnu Subiyanto, seorang MAHASISWA MM UGM yang pasti tentu apa itu KAIDAH_KAIDAH ILMIAH dan bagaimana menformulasikan sebuah penelitian untuk menjawab permasalahan yang ada.
Kalau memang sebuah penelitian bukan buat SCIENCE lebih baik juga bertanya pada diri sediri sebagai seorang MAHASISWA MAGISTER MANAGEMEN, buat apa penelitian saya nanti….
Saya, pernah diskusi dengan beliau namun entahlah, mungkin diskusi itu hanya sebatas menguji sejauh mana pemahaman saya tentang apa yang saya dalami.
entahlah
Masih ada lagi …. (continued)

Oleh: Cahyo Rahmadi yang sedang belajar biologi, mahasiswa entah berantah, peserta/pembicara ISKF, penulis artikel di jurnal internasional, kuli di lembaga pemerintah, yang lagi bertanya “buat apa penelitian saya ..??”, dan lagi mikir bagiamana caranya membukakan nalar ” betapa pentingnya sebuah KESEIMBANGAN”, dan lagi bingung gimana mau bangun rumah tanpa semen …

Ada satu artikel yang buat saya menarik untuk dikritisi dalam salah satu blog yang ditulis oleh EFFNU SUBIYANTO seorang MAHASISWA MAGISTER MANAGEMEN UGM dan PESERTA ISKF I di Yogyakarta, dan tulisannya juga terbit dalam majalah GAPURA pada tanggal 2 September 2008.
Artikel ini sangat perlu dikritisi agar ada “counter opinion” terhadap beberapa pernyataan dalam artikel tersebut.

Dari tinjauan judul saja yaitu “Karst bukan bahan Baku Semen” sudah terkesan adanya satu tujuan untuk sebuah pembenaran bagi aktivitas penambangan di kawasan karst. Definisi Karst sendiri menurut salah satu kamus online adalah “An area of irregular limestone in which erosion has produced fissures, sinkholes, underground streams, and caverns.” Dimana satu kawasan yang menunjukakn ciri-ciri seperti difinisi tersebut layak disebut sebagai karst yaitu adanya proses beberapa sistem perguaan, aliran sungai bawa tanah dan luweng. Nah, di Indonesia mayoritas semua penambangan batu gamping untuk semen di sekitar lokasi penambangan terdapat fenomena yang dapat dikategorikan sebagai karst. Salah satu penambangan di Tuban pun ada di dalam kawasan Karst karena sekitar 500 m dari kawansan penambangan terdapat gua yang dihuni ribuan kelelawar dan ada juga sistem sungai bawah tanah yang penting untuk ketersediaan air. Lantas dimana benarnya Karst bukan bahan baku Semen…, buat saya judul ini adalah sebuah pembelokan atau malah bisa dikatakan penyesatan. Mari kita baca lagi buku-buku tentang arti dan definisi karst dan aspek-aspeknya.

Kalau penambangan dilakukan berdasarkan ketentuan Kepmen ESDM perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam baik dari sisi aspek SURFACE maupun UNDERGROUND. Nah dalam kepmen tersebut saja sudah ditentukan KLASIFIKASI KARST, yang ada Karst Kelas 1, 2 dan 3. Penambangan boleh di Karst Kelas 3 dan Karst Kelas 2 dengan AMDAL dll. Lantas, mengapa perlu dibuat klasifikasi KARST, kan untuk tujuan PENGELOLAAN Penambangan untuk bahan baku semen. Terus … kalau Karst bukan bahan baku semen, terus bahan baku semen ambil dari mana, mungkin tiu pertanyaan yang perlu di jawab oleh penulis.

Jadi dari sisi judul saja sebenarnya ada yang kurang pas namun, apapun itu Judul adalah hak prerogratif penulis sesuai dengan apa tujuan penulis.

Ada hal yang masih perlu ditinjau lagi seperti yang terkutip di bawah ini :
“Disinilah kekurangan para peneliti ISKF karena tidak memberikan rekomendasi alternatif dua arah secara berimbang dari sudut pandang peneliti dan kalangan bisnis sehingga mengurangi bobot penelitian. ”
Sebenarnya, sebuah bobot penelitian tidak hanya ditinjau dari apakah sebuah penelitian tidak berbobot karena tidak bisa menyelesaikan atau memberikan kontribusi terhadap permasalahan yang ada. Penelitian adalah sebuah proses dimana setiap peneliti ingin mencapai sesuatu yang buat peneliti penting untuk dijawab, sementara peneliti belum menitik beratkan pada permasalah lain yang muncul.

Terkadang banyak orang menuntut sebuah penelitian harus bisa menyelesaikan pernmasalahan bangsa, baik itu ketahanan pangan, energi terbarukan maupun aspek ekonomi kemasyrakatan bahkan konservasi dan pemanfaatan.

Padahal perkembangan ilmu Karst di Indonesia baru seumur jagung, kalau para penelitinya sudah dituntut unttuk bisa menyelesaikan bagaimana permasalahan antara konservasi dan pemanfaatan, sementara kita belum tahu apa-apa tentang karst dan seluk beluknya. Hal ini dikhawatirkan akan terjadin MISLEADING dalam menjawab pertnyaan karena menimnya data.

Sekiranya peneliti bisa menjawab bagaimana konservasi dan pemnafaatan bisa berjalan selaras, mungkinkah sektor bisnis bisa melakukan seperti yang diamanatkan oleh hasil PENELITIAN.

Sebagai contoh, dari sisi biologi suatu kawasan karst terdapat beberapa gua dengan populasi kelelawar, sebagai data dasar, sebelum dilakukan aktivitas di kawasan tsb dilakukan AMDAL untuk mengetahui seberapa besar populasi kelelawar dan hewan renik lainya di gua A.

Hasil AMDAL otomatis menjadi data dasar sebagai acuan belum adanya dampak, dari sini muncul rekomendasi untuk RKL/RPL, salah satunya melakukan pemantauan populasi kelelawar dan hewan renik lainnya di gua A sepanjang tahun sebanyak dua kali perbedaan musim.

NAh, apakah pelaku bisnis penambangan semen sudah melakukan ini ????
APakah pelaku pertambangan di Tuban sudah mempunyai data jenis kelelawar dan besaran populasinya tiap jenis dan bagaimana kecenderungannya sejak AMDAL sampai sekarang ….
kalau hal ini bisa dijawab oleh pelaku bisnis pertambangan gamping, para peneliti bisa membantu untuk bagaimana bisa ECO-FRIENDLy. Tapi kalau belum bisa menjawab pertanyaan itu, lebih baik introspeksi dan mengkoreksi apakah dulu AMDAL-nya benar atau memang hanya sekedar formalitas.
Kalau memang belum ada data, tentang biologi maupun aspek lain yang bisa dijadikan BASE LINE STUDY, lebih baik meninjau kembali rencana untuk membangun di kawasan baru.
Kalau aspek biologi tidak menjadi aspek yang penting, berarti aspek KESEIMBANGAN EKOLOGI telah diabaikan hanya untuk kepentingan ekonomi sesaat.

Kalau ditanya, apa pentingnya BIOLOGI. mari kita bertanya bagaimana kita bisa makan duren, bagaimana kita makan nasi, bagaimana mangrove sepanjang pantai utara jawa bisa bertahan, siapa yang menyebarkan biji hingga ke puncak gunung, siap yang memangsa ngengat dan nyamuk di malam hari, jangan hanya bertanya berapa uang yang akan kita peroleh dengan peduli aspek biologi.

Hitung saja, berapa uang harus disiapkan untuk membeli pestisida untuk membasmi 200.000 ekor ngengat, berapa uang diperlukan untuk membayar orang menyerbuki bunga DLONGOP agar kita bisa makan duren …, berapa uang harus disiapkan untuk bayar orang nanam pohon di puncak gunung….,